Thursday, May 19, 2011

CAS Nyatakan Mediasi Proses Tertutup


Gedung tiga lantai yang merupakan markas besar Court Arbitration of Sport atau Tribunal Arbitral du Sport tampak menggentarkan bagi siapa saja yang tidak pernah berurusan dengan birokrasi di Swiss. Di bangunan yang cukup menonjol di kawasan tengah kota Lausanne inilah nasib persengketaan olah raga di dunia diputuskan. Bagi jutaan warga Indonesia, mereka sangat berharap pada dewi keadilan dari para hakim yang diharapkan bisa memutus perkara secepatnya, khususnya menjelang Kongres PSSI yang dibuka hari ini di hotel Sultan di Jakaarta.

Namun tidak mudah menguak misteri digedung kukuh yang jendela dan pintunya dicat hijau tua itu. Sejak Senin lalu, KBRI Bern sudah berusaha keras melobi agar bisa mengikuti proses persidangan yang mana di Eropa berlangsung terbuka , kecuali perkara seksual atau masalah anak dibawah umur. Namun, berulang kali pejabat CAS menegaskam rules of the game pemeriksaan dan penanganan arbitase selalu menggunakan sistem tertutup. Jadi siapapun tidak akan diizinkan mengetahuinya kecuali yang berperkara atau mewakilinya.

"Paturannya begitu ya harus kami laksanakan begitu" kata seorang pejabat humas CAS yang kemarin dihubungi staf KBRI Bern. Untuk itu dia mengirimkan surat elektronik ke KBRI yang berikut dibawah ini bisa dibaca langsung.

Dalam perkembangan lain, baik andaikata FIFA menang atau K-78 dana calon George Toisutta/Arifin Panigoro menang, Indonesia tampaknya tidak akan dijatuhi samksi oleh FIFA. KBRI Bern sangat berkepentingan mengamankan RI dari jatuhnya sanksi tsb. Kumci dihindarinya sanksi justru ditentukan oleh mulus tidaknya kongres hari ini di jakarta. Jika berlangsung rusuh, sangat besar kemungkinan FIFA menjatuhkan sanksi. Tetapi jika berjalan lancar, siapapun yamg terpilih, posisi Indonesia akan aman.

"Prinsipnya tidak ada campur tangan baik oleh pemerintah maupun dari FIFA di dalam Kongres" kata seorang sumber yang mengetahui proses di CAS. Pemerintah dilarang campur tangan karena bisa mengganggu independensi PSSI, sedang FIFA juga tdk bisa campur tangan karema FIFA dilarang mencampuri keputusan Kongres. Dengan kata lain, andaikata Komgs memutuskan GT/AP bisa bertarung dan dipilih Kongres baik Komisi Normalisasi maupun FIFA tidak bisa menolaknya.
"Prinsipmya, Kongres PSSI merupakan pengambil keputusan tertinggi. KN pun tidak bisa menganulir putusan Kongres" kata sumber KBRI

Dengan demikian terpulang kepada delegasi yang sekarang berkmpul di hotel Sultan, apa saja bisa mereka putuskan dalam kongres sekalipun tidak sesuai dengan kemauan FIFA dan KN. Berikut surat CAS yang dikirim ke KBRi kemarin siang:

From: Info [mailto:Info@tas-cas.org]
Sent: Mittwoch, 18. Mai 2011 16:30
To: PENERANGAN01
Subject: RE: FIFA vs Patrick Mbaya

Dear Madam,


Thank you for your message and for your interest in the activities of the Court of Arbitration for Sport (CAS).

Arbitration procedures conducted before the CAS are handled in a confidential manner. Accordingly, we are not in a position to comment at this stage. If possible, a copy of the final decision rendered by the CAS Panel may be made public at a later stage, but, of course, only after it has been notified to the parties concerned.

Thank you for your understanding.
Yours sincerely,

CAS secretariat

Court of Arbitration for Sport

Château de Béthusy

2, Avenue de Beaumont

1012 Lausanne

Switzerland

Tel: +41 21 613 5000
Fax: +41 21 613 5001
www.tas-cas.org


From: PENERANGAN01 [mailto:penerangan@indonesia-bern.org]
Sent: 18 May 2011 14:33
To: Info
Subject: FIFA vs Patrick Mbaya
 

Dear TAS

I believe you have received Requette D appel au tribunal arbitral du sport aved demande du measures conservatoires tres urgentes from patrick Mbaya lawyer of George Toisutta and Arifin Panigoro.

I would to know ;
  1. whether tomorrow TAS will announce the response regarding such letter Requette D appel au tribunal arbitral du sport
  2. whether the answer from FIFA can be attended by public or Indonesian embassy.
  3. whether Indonesian Embassy can have the official statement from TAS because Indonesian public really looking forward to TAS response.


Thank you

Oktavia Maludin

2nd secretary Indonesian Embassy in Berne

Sumber foto : http://www.bz-berlin.de/multimedia/archive/00139/CAS_Lausanne_139218k.jpg

By Djoko Susilo with 3 comments

3 comments:

saya rasa keputusan CAS adalah no decision, atau tidak mempunyai wewenang untuk ikut campur dalam masalah tersebut,,yang berarti keputusan untuk menganulir AP GT NDB NH sesuai dengan keputusan Komding terdahulu (dimana tidak bisa diganggu gugat) harus tetap dilaksanakan

This comment has been removed by the author.

Post a Comment

    • Popular
    • Categories
    • Archives