Saturday, May 14, 2011

Dari Peradilan CAS di Lausanne : Dubes RI di Swiss Minta Semua Pihak Berkepala Dingin

Lausanne, Swiss

Gedung tiga tingkat yang bernama Chateu de Bethusy ang terletak di Avenue de Beaumont 2, Lausanne tidak terlalu megah untuk ukuran Swiss, meski cukup berwibawa. Di Gedung itulah bermarkas Court of Arbitration for Sport (CAS) atau dalam bahasa Prancisnya Tribunal Aribtral du Sport, yang singkatannya dalam bahasa Indonesia sama dengan Pengadilan Arbitrase Olah Raga. Inilah satu – satunya pengadilan di dunia yang menangani persengketaan di bidang olah raga. Di gedung itulah minggu depan ini, menurut rencana , akan digelar sidang gugatan terhadap FIFA atas berbagai keputusan yang diangap merugikan kepentingan nasional sepak bola Indonesia.

‘’Saya harap semua pihak berkepala dingin dan mengikuti prosedur hukum di Lausanne dengan baik’’ ujar Dubes Djoko Susilo sambil mengingatkan bahwa semua pihak harus menghindarkan Indonesia agar tidak terkena sanksi internasional.

Gagasan berdirinya CAS ini diambil oleh presiden Komite Olimpiade Internasional (OIC) Juan Antonio Samaranch pada awal tahun 1980an ketika menyadari bahwa tidak ada lembaga independent internasional yang menangani kasus – kasus persengketaan khusus olah raga. Olah karena itu begitu terpilih kembali sebagai presiden OIC pada tahun 1981., dalam sebuah sidang pleno OIC pada tahun 1982 di Roma memutuskan dibentuknya tim khusus pengkajian pembentukan pengadilan olah raga.  Tim khusus ini dipimpin oleh Keba Mbaye yang selain menjadi anggota esekutif OIC, juga hakim pada Mahkamah Internasional di Den Haag. Hasil kerja hakim Mbaye ini ialah bterbentuknya CAS/TAS yang bermarkas di Lausanne. Mengapa markasnya di Lausanne? Sebab markas besar OIC juga di Lausanne di pinggir danau Lake Geneva yang indah.

CAS secara resmi berfungsi dan operasional pada tanggal 30 Juni 1984 dibawah pimpinan Hakim Ketua Keba Mbaye dan Panitra Gilbert Schwear.. Dalam perkembangannya melalui apa yang disebut sebagai ‘’Paris Agreement’’ pada tahun 1994 dikukuhkan keberadaan CAS/TAS dengan penandat-anganan dari wakil–wakil federasi olah raga tingkat dunia untuk tunduk kepada yurisdiksi CAS/TAS dalam menyelesaikan berbagai masalahnya. Disepakati pula anggaran tahunan CAS sebesar 7,3 juta CHF pertahun.

Bagaimana cara kerja CAS? Pada dasarnya lembaga peradilan ini terbagi dalam dua bagian atau divisi. Divisi pertama ialah The Ordinary Arbitration Division. Yang terdiri dari panel sejumlah hakim, dengan tujuan merundingkan proses perselisihan agar berjalan lancer.  The Appeals Arbitration Division,  yang terdiri dari panel hakim yang akan mnyelesaikan gugatan atas keputusan federasi atau asosiasi olah raga dan mngambil keputusan yang perlu. Yang jadi ukuran adalah statute organisasi yang terkait.  Gugatan K-78 PSSI tampaknya akan melalui proses ini.

Menurut rencana Patrick Mbaya, pengacara Belgia yang mewakili dua serangkai George Toisutta dan Arifin Panigoro  serta K-78 akan berhadapan  tim legal FIFA yang dipimpin Marco Villiger, direktur Legal Affairs FIFA. Untuk keperluan ini, Patrick sudah mengirimkan surat gugatan lengkap setebal 16 halaman ke TAS sejak tanggal 12 Mei 2011 lalu. Dokumen yang berjudul : Requete D’Appel Au Tribunal Arbitral Du Sport, Avec Demande De Mesures ConservatoiresTres Urgentes. Kira – kira terjemahan bebasnya ialah: Surat Gugatan Banding ke Pengadilan Arbitrase Olah Raga, yang menghendaki tindakan cepat dan urgent.

Dalam suratnya tersebut, Patrick menguraikan dengann rapi kronologi kisruh yang terjadi di PSSI dan campur tangan FIFA yang membuat situasi makin ruwet. Salah satu tindakan FIFA yang bisa dianggap sewenang – wenang ialah penetapan electoral code oleh KN yang dibenarkan FIIFA dan juga campur tangan FIFA atas pelarangan nama – nama tertentu diloloskan oleh Komite Banding. Semua tindakan itu bertentangan dengan statuta FIFA..

Dubes RI di Swiss Djoko Susilo yang beberapa hari lalu bertemu dengan Patrick Mbaya di Geneva dan kemarin sudah membaca surat gugatan tersebut sangat percaya bahwa TAS/CAS akan membuat keputusan yang mencegah Indonesia terkena sanksi. Dari segi hukum kasusnya sangat kuat, buktinya dari dua buah surat yang dikirim FIFA ke Patrick Mbaya, terdapat kalimat yang menunjukkan keragu – raguan FIFA sendiri yang tidak yakin dengan apa yang dilakukannya terhadap PSSI selama ini. Karenanya, dalam surat tersebut FIFA menyatakan akan tunduk atas segala keputusan apapun yang diambil oleh CAS.

Dubes RI untuk Swiss Djoko Susilo dengan prihatin mengikuti kasus ini. KBRI Swiss akan memonitor perkembangan ini dengan tujuan ikut mencegah dijatuhkannya sanksi terhadap Indonesia. “”Kita semua harus berkepala dingin. Dari berbagai sumber yang saya hubungi, sangat mungkin Indonesia tidak akan dikenakan sanksi sesuai dengan jalur hukum. Karenanya semua pihak harus menahan diri dan berkepala dingin’’ ujar Dubes.

Menurut Dubes, saat ini tindakan FIFA sebenarnya bisa dikategorikan sebagai provokasi dan mengobok – obok dunia sepak bola Indonesia. Tujuannya jelas, jika para tokoh bisa terprovoklasi, FIFA punya alasn menjatuhkan sanksi atas Indonesia. Seorang wartawan Swiss menyebut taktik FIFA ini merupakan sebuah bentuk premanisme (bullying) terhadap perserikatan sepak bola yang berani melawannya. Patrick Mbaya, pengacara K-78 pernah mengalami tindakan premanisme FIFA sebelumnya dalam menangani beberapa kasus lain.‘’Tetapi pada akhirnya, FIFA harus tunduk kepada ketentuan hukum. Disinilah posisi K-78 dan pihak Indonesia snagat kuat’’ ujar sumber yang enggan disebutkan namanya itu.

Oleh karena itu Dubes Djoko Susilo menghimbau agar semua pihak mematuhi proses hukum yang akan segera berlangsung di Lausanne, tidak terpancing melakukan berbagai tindakan yang merugikan. Diplomasi pun harus ditingkatkan agar semua berjalan lancar dan berlangsung mulus.

‘’Konfrontasi hanya akan merugikan kepentingan nasional’’ ujar Dubes yang saat ini sibuk bolak balik ke Lausanne itu.

Sumber foto : http://www.bz-berlin.de/multimedia/archive/00139/CAS_Lausanne_139218k.jpg

By Djoko Susilo with 2 comments

2 comments:

Wah, berita yang sangat menarik mas Djoko. Lama-lama sumpek juga lihat kisruh bola di Indonesia.

Bisa jadi mereka ketularan sinetron-syndrom. Gejala-gejalanya : untuk menyelesaikan satu masalah sederhana aja, butuh waktu sekian lamanya.

Lama-lama jenuh juga. Berita positif dari sang garuda hampir gak pernah kedengeran, sementara yang muncul cuma kisruh-kisruh aja.

Akhirnya cuma bisa berharap, semoga Garuda di Dada ini gak jadi lembek karenanya.

Post a Comment

    • Popular
    • Categories
    • Archives