Thursday, May 5, 2011

Mendulang Sukses dari Kopi Luwak


Swiss dikenal sebagai Negara penghasil produk berkelas dunia. Ambil contoh produk arloji, kimia, farmasi, hingga pengolahan dairy products, seperti kopi, dan cokelat. Sampai sekarang, tidak ada yang mengalahkan produk Nestle, Lindt, atau Nespresso. Kopi Nespresso yang pabriknya hanya mempunyai 400 karyawan setiap tahun menghasilkan devisa untuk Swiss hampir USD 9.5 milliar.

Nespresso sebenarnya hasil riset dan kejelian mempelajari kualitas kopi. Ketika saya mengunjungi pabriknya di Avenche, salah seorang direkturnya buka kartu ke saya : “Sebenarnya, suksesnya kopi ini belajar dari proses kopi luwak dari negeri Anda : Indonesia”. Saya terkejut bukan main. Bagaimana bisa, kita yang punya kopi luwak, tetapi mereka yang bisa mendulang kesuksesan.

Menurut penuturan Direktur Nespresso tersebut, mereka memperhatikan dan menganalisis bahwa kopi luwak itu adalah kopi paling enak di dunia karena dipetik oleh luwak yang memilih hanya biji kopi paling matang. Prinsip tersebut diterapkan. Biji kopi yang dipakai untuk Nespresso secara khusus dipetik dengan tangan pekerja yang terlatih. Dari petikan tangan tadi, masih disortir lagi, diambil yang benar-benar matang. Dari proses tersebut, akan dihasilkan kopi terbaik karaena benar-benar bijinya masak pohon.

“Kami sebenarnya mau memasarkan kopi luwak, tetapi kami tahu suplainya tidak akan memadai. Karena itu, tahun lalu kami hanya bisa mengeluarkan special edition Blue Batak Coffee yang sangat disukai konsumen”, katanya mantap. Dalam iklannya, disebutkan asal Blue Batak Coffee itu dari daerah sekitar Danau Toba, Sumatera Utara, yang dikenal menghasilkan salah satu kopi terbaik di dunia.

Sebelum saya bertugas di Swiss, saya tidak pernah mencicipi kopi Nespresso, bahakan ngopi saja jarang. Tetapi, sekarang setiap pagi sebelum ngantor, saya menyeruput kopi Nespresso sebagaimana masyarakat Swiss lainnya. Di Swiss, saking larisnya, Starbucks jadi sepi. Sebab, harga secangkir Nespresso hanya sepersepuluh kopi asal Amerika Serikat itu dengan rasa yang tidak kalah nikmatnya. Kabarnya, banyak yang antre untuk bisa membuka butik kopi Nespresso. Ketika saya bertanya kepada Mr Van Dyck, kapan Nespresso masuk Indonesia, dijawab ternyata produk unggulan itu baru akan bisa masuk Indonesia dua tahun lagi. Saya tahu sekarang bahwa para penggemar Nespresso di Jakarta jika mau beli suplai kopinya terpaksa harus ke Singapura.

Saya benar-benar tertegun ketika meningat bahwa kopi Indonesia adalah biji kopi terbaik di dunia, ternyata produk akhirnya yang berkualitas tinggi malah diproduksi orang-orang Swiss. Mengapa bisa demikian ? Sebab, pendidikan di Swiss juga berkualitas tinggi, meski biayanya murah meriah. Kalau ada orang bergelar doctor atau professor, ya benar-benar menghasilkan produk ilmiah dan akademis bermutu…

Mungkin ini pantas menjadi pemikiran kita bersama.

Sumber foto : http://www.nespresso.com/

By Djoko Susilo with 3 comments

3 comments:

lagi-lagi kita hanya bisa tertegun. semoga menjadi pelajaran untuk kita semua akan pentingnya mengelola kekayaan kita dengan baik untuk kita sendiri.

wah, sampai seenak itu kah hingga starbuck pun sepi? hmm, kalau di sini ada tradisi nyethe? tidak kalah sama nespresso pak, hehe..

2 tahun lagi? Semoga waktunya pas. Raksasa kopi dari Italia, Lavazza, sudah membawa masuk produk sejenis (kapsul) ke Indonesia melalui distributor resmi di Serpong.

Meskipun promosinya masih kurang, tapi Lavazza punya tempat di hati penggemar kopi "serius" di Indonesia. Lavazza juga sourcing kopi dari Indonesia.

Maju terus kopi Indonesia!!

Post a Comment

    • Popular
    • Categories
    • Archives