Tuesday, May 3, 2011

Refleksi Pendidikan, Belajar dari Swiss : Gaji Guru Melebihi Anggota DPR

2 Mei 2011, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Dari Swiss, DJOKO SUSILO, Dubes RI yang juga mantan wartawan Jawa Pos, menuliskan bagaimana negeri maju itu mengelola pendidikannya sehingga mencapai kualitas dunia. Tulisan ini semoga memberikan inspirasi. 

Ketika tiba di Swiss tahun lalu, saya terheran-heran ketika mendapatkan informasi bahwa di negeri tempat saya bertugas (sebagai duta besar RI) ini tidak terdapat seorang Mendiknas (menteri pendidikan nasional) dan sekaligus jajaran Kementerian Pendidikan Nasional.

Berarti juga tidak ada birokrat yang ’’melayani’’ dunia pendidikan. Namun, bagaimana Swiss bisa memiliki
sistem pendidikan yang sangat hebat, berkelas dunia yang universitasnya sangat sering menghasilkan pemenang nobel? Apalagi biayanya sangat murah meriah.
Setiap orang Swiss atau siapa pun yang tinggal di Swiss, termasuk orang asing, bisa mengikuti pendidikan dasar gratis, mulai SD, SMP, hingga SMA.Itu merupakan pendidikan wajib. Jadi, tidak ada ceritanya tak ada anak Swiss yang tidak bersekolah. Memang, jalannya pendidikan dilaksanakan dalam tiga bahasa, bergantung pada kanton (semacam negara bagian), yakni Prancis, Jerman, dan Italia.

Jika seseorang berhasil menamatkan SMA, saat mau masuk universitas pun, asal cukup pintar, ongkosnya tidak akan mencekik leher orang tua yang berpenghasilan paling rendah. Bayangkan, UMR di Swiss sekitar 3.000 CHF (franc Swiss) per bulan (Satu CHF setara Rp 9.826). Dengan UMR 3.000 CHF, biaya kuliah S-1 (strata 1) satu semester hanya sekitar 600 CHF atau rata-rata hanya 100 CHF per bulan.
Itu berarti biaya kuliah per bulan setara dengan sepertigapuluh UMR. Orang paling miskin pun akan bisa bayar kuliah, bahkan mahasiswa yang be sangkutan bisa bayar sendiri dengan bekerja paro waktu di restoran cepat saji atau di perpustakaan sekolah.

Jika mau melanjutkan program master, ongkosnya lebih murah lagi, yakni 300 CHF per semester atau 50 CHF sebulan dan yang benar-benar brilian bisa mengikuti program doktor yang hanya bayar per semester sekitar 150 CHF atau bahkan ada yang hanya 65 CHF. Luar biasa murahnya.
Mengapa pendidikan di Swiss bisa murah meriah, tetapi berkualitas? Itu tidak lepas dari kebijakan nasional yang menempatkan pendidikan sebagai program pembangunan unggulan.

Pemerintah Swiss yakin, hanya dengan pendidikan yang baik, Swiss bisa mempertahankan tingkat inovasi dan kemajuan industrinya. Oleh karena itu, jika ada subsidi habis-habisan, dana terbesar diberikan untuk dunia pendidikan. Swiss tidak mau memberikan subsidi BBM yang mengakibatkan makin banyak orang yang membeli mobil. Mereka juga tidak mau mensubsidi listrik yang akan mengakibatkan orang boros energi dan sebagainya. Namun, untuk pendidikan, baik pemerintah federal atau kanton berpendapat harus dibuat semurah-murahnya dengan kualitas setinggi-tingginya. Kualitas pendidikan Swiss yang hebat itu terbukti sejak masa ilmuwan genius Albert Einstein bersekolah di Swiss.Almamater ilmuwan kondang tersebut,yakni ETH Zurich yang dalam bahasa Jerman merupakan kependekan dari Eidgenössische Technische Hochschule atau Institut Teknik Federal, merupakan salah satu perguruan tinggi teknologitop papan atas kelas dunia.
Kampus di Zurich itu sejajar dengan Massachusetts Institute of Technology (MIT) atau Caltech atau California Institute of Technology, dua kampus tersohor di AS.

Sejak zaman Einstein, tidak kurang dari 21 akademisi ETH Zurich tercatat sebagai pemenang nobel di bidang fisika, kimia, dan kedokteran. Pantas, belum lama ini terbit sebuah buku yang ditulis oleh Thomas Moore tentang ETH yang disebut sebagai School for Genius.Memang untuk masuk atau kuliah di ETH tidak sembarangan. Demikian pula, umumnya perguruan tinggi di Swiss sangat ketat dengan peraturan akademis. Oleh karena itu, sistem pendidikan di Swiss tidak menggiring semua siswa untuk masuk universitas. Bahkan, jika mau dirata-rata, hanya 20–25 persen pelajar yang akan melanjutkan pendidikan ke universitas. Siapa mereka itu? Ya, mereka adalah pelajar yang akan meniti karir sebagai akademisi, periset, saintis, dan lain-lain. Jika ingin menjadi pekerja terampil, tidak usah menjadi profesor, doktor, dan sebagainya. Cukup sekolah ke politeknik atau institut.

Menurut sistem pendidikan di Swiss, pada kelas IX atau sejajar dengan kelas III SMP, para pelajar akan dievaluasi oleh para guru. Tentu dengan supervise dinas pendidikan kanton bersangkutan.
Jika yang bersangkutan menunjukkan bakat akademik yang bagus dan memiliki minat akademik yang tinggi, dia akan direkomendasikan masuk matura atau SMA. Jika dia ingin mempunyai skill dalam teknis atau bisnis, disarankan melanjutkan pendidikan menengah khusus atau sekolah keterampilan semacam SMKK, STM, SMEA (sekarang SMK) di tempat kita.

Bahwa pemerintah Swiss sangat serius dengan pendidikan, hal itu juga terbukti dengan kebijaksanaan yang mendorong mereka yang mengambil sekolah keterampilan atau vocational training tidak dianaktirikan.
Maka, sejak awal kalangan industri dilibatkan. Dengan kata lain, pelajar yang mengambil pendidikan keterampilan dijamin bisa mandiri atau bekerja di perusahaan yang menjadi bapak asuhnya.Jika mau melanjutkan pendidikan tinggi di bidang spesialisasinya, itu tetap bisa dilakukan. Pendidikan tinggi di Swiss dibagi dalam tiga jenis garis besar. Pertama, universitas yang merupakan pusat riset dan pendidikan akademik tertinggi yang ditujukan menghasilkan periset dan saintis andal.

Sistem itu dalam bahasa Jerman dikenal dengan nama Die Universitàren Hochschulen. Diharapkan dari lembaga tersebut akan dihasilkan riset unggulan di segala bidang. Misalnya, dalam bidang nano techonology, advanced aviation, pure ma thematics and physics or chemistry. Keseriusan menggarap bidang itu telah menghasilkan nama-nama besar di kelas dunia. Misalnya, para pemenang nobel: Wilhelm Conrad Röntgen (fisika, 1901); Albert Einstein (fisika, 1921); Wolfgang Pauli (fisika, 1945); Tadeus Reichstein (kedokteran, 1950); dan Kurt Wüthrich (kimia, 2002) dan masih belasan pemenang nobel lain yang mempunyai kontribusi besar bagi kemajuan Swiss.

Mereka sadar, kemajuan tidak bisa diperoleh hanya karena banyak orang memajang gelar profesor doktor di depan nama seseorang, tetapi karena hasil riset konkret yang diakui dunia. Di Swiss, seorang bergelar profesor atau doktor akan jadi bahan tertawaan dan gunjingan jika tidak pernah menulis buku atau menghasilkan karya ilmiah.

Jalur kedua bagi pendidikan tinggi di peruntukkan mereka yang ingin menjadi pendidik, yakni Die Pä da gogischen Hochschulen atau terjemahan gampangnya adalah sekolah tinggi bagi para pendidik. Lha, kita dulu sudah punya IKIP di berbagai kota yang sayangnya, entah kenapa sekarang berubah menjadi universitas dengan spesialisasi yang tidak jelas. Di per guruan tinggi pendidikan itu, calon guru benar-benar dididik dan di persiapkan dengan matang, baik dari segi ke mampuan intelektual maupun moral.
Karena menyadari tugas guru sangat berat, pemerintah memberlakukan seleksi dan pengawasan yang ketat. Selain itu, para guru mendapat remunerasi atau gaji yang memadai. Jika gaji rata-rata pegawai Swiss berkisar 7.000–8.000 CHF, seorang guru di Swiss bisa bergaji rata-rata 15.000 CHF per bulan. Bandingkan dengan ”uang lelah”anggota DPR di Swiss yang hanya sekitar 9.000 atau 10.000 CHF per bulan.

Memang dengan gaji yang tinggi tersebut, para guru diharapkan bisa mencurahkan waktu untuk mengajar dan membimbing anak didiknya dengan baik. Oleh karena itu, profesi guru merupakan pekerjaan yang sangat terhormat di masyarakat Swiss.

Jalur ketiga pendidikan tinggi di Swiss adalah Die Fachhochschulen atau sekolah tinggi khusus atau institut atau juga politeknik. Jalur itu ditujukan untuk memberikan keterampilan tinggi kepada para pekerja spesialis, umumnya di bidang teknik, baik sipil, kimia, metalurgi, maupun arsitek. Bedanya dengan universitas ialah pengajarannya bersifat aplikatif. Sekolah tinggi jenis itu, selain mendapat dukungan dana dari pemerintah kanton (setingkat negara bagian), mendapat kucuran da na dari industri.

Secara umum, riset di Swiss dibiayai dua pihak. Jika itu me rupakan riset murni, dana berasal dari pemerintah federal, sedangkan jika riset terapan, biasanya dibiayai swas ta. Hasilnya sangat jelas. Meski Swiss sangat kecil dengan penduduk hanya 7,6 juta jiwa, industrinya merajai dalam berbagai bidang.

By Djoko Susilo with 6 comments

6 comments:

Very inspired, salute for Pak Djoko. Termasuk tulisannya kemaren di Tempo. Pemerintah Swiss memang menggratiskan biaya sekolah (kecuali Uni yang butuh 600-700 CHF itu per semester). Sebenarnya tidaklah gratis dalam arti cuma-cuma (mungkin beda makna gratis di Brunei sana dengan di Swiss). Pajak (lebih tepatnya potongan) dari setiap orang yang berpenghasilan memang cukup tinggi. Saya sbg contoh, tiap bulan sekitar 21% dari gaji akan kepotong, termasuk utk pajak ( gemeinde,kanton dan federal), asuransi kecelakaan kerja, dana pensiun dan dana sosial. Dana sosial ini utk para pensiunan, sehingga orang pensiun pun tetap bergaji bulanan. Pajak gemeinde lebih besar porsinya, karena pendidikan menjadi tanggung jawab gemeinde, sampai kelas IX. Jadi pendidikan dikelola oleh tiap gemeinde dan kanton (kecuali Uni), jadi wajar juga tiap daerah itu berusaha yg terbaik. Listrik sendiri pun dikelola gemeinde, sy bayar 100 CHF per 3 bulan, menurut saya ini lebih murah daripada Indonesia dengan daya yang sama (ini sbg contoh lain hebatnya gemeinde mengelola warganya)

Nah Indonesia saya yakin mampu melakukan hal sama, karena pada kenyataanya orang Indonesia mampu koq menyekolahkan anak-anaknya, tinggal perlu pengelola yang pintar aja, sekaligus utk melindungi warganya dari kebangkrutan akibat bayar sekolah dan kesehatan >>> sekaligus utk mencegah orang nekat korupsi.

Andaikata sistem pendidikan dan kesehatan sudah beres di Indonesia, maka gerakan-gerakan separatisme juga akan berkurang, karena kebutuhan dasar rakyat sudah terpenuhi, secara moral dan psikologis pasti orang jadi malas utk memberontak.

Kalau hal-hal spt ini anggota dewan terhormat berulang kali pun datang ke LN asal ada terapannya di Indonesia, kita ikhlas bahkan kita dukung.

Swiss maju belum lama sebenarnya, startnya hampir sama dengan Indonesia yaitu pasca PD II, cuma bedanya orang ini cepat majunya, kita lamban...sebelum PD II teknologi pertanian pun masih tradisional make kuda dan lembu, tapi dalam era kemerdekaan global mrk cepat berevolusi...jadi kalau selalu kita excuse kapan kita bergerak maju?

Sekali lagi salut buat Pak Djoko yang sekalipun seorang Dubes, tapi tidak lupa sbg warga negara biasa juga.

Alfonco Sinaga

Mendiknas harus baca ini nih. Potensi SDM Indonesia sangat besar bila saja diberi kesempatan menuntut ilmu dan dibina seperti ini agar bisa berkembang. Temtu saja tidak hanya pendidikan akademis, tetapi juga yang berupa keterampilan atau skill.

Saya selalu percaya pendidikan yang baik dan merata adalah langkah awal menuju bangsa yang maju. Semoga akan tiba saatnya dimana pendidikan di Indo digratiskan, minimal pendidikan dasar, dan standar kualitas terjaga sampai ke pelosok daerah (tidak timpang) agar semua penduduk berkesempatan rata untuk mengembangkan potensi masing2.. Guru2 juga harus diberi akses ke pendidikan dan pelatihan yang berkualitas, terutama mereka yang mengajar di pelosok dan diberi gaji yang pantas agar mereka merasa dihargai terus termotivasi.

Tapi saya senang kini masalah pendidikan tidak hanya ditangani pemerintah (walau seharusnya mereka yg plg bertaanggung jawab) tapi juga sudah mulai banyak NGO lokal dan sociopreneur2 muda yang berkecimpung di bidang ini dengan tekad membuat perubahan. Well, I goes someone has to start doing something, kan, daripada menunggu dengan pasif terus, hahahaha.

salam dari Zürich! :)

Yth, Duta Besar Republik Indonesia di Swiss

saya atas nama Wildan Firmansyah, warga negara indonesia asli yang berkeinginan untuk melanjutkan studi S1 di Swiss, mengharapkan bantuan informasi dan petunjuk bagaimana baiknya serta dimana kah saya bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi saya. sekarang saya baru saja menyelesaikan kuliah di Institut Pertanian Bogor dengan jurusan Manajemen Informatika dan telah mendapat gelar Ahli madya 2 bulan yang lalu. saya sangat tertarik dan berminat untuk menimba ilmu di Swiss. dengan surat ini saya mengharapkan bantuan serta petunjuk dari duta besar Republik Indonesia di Swiss.

saya ucapkan terimakasih banyak atas perhatian dan kerjasama nya.

Ttd,

Wildan firmansyah

kapan ya kita bisa seperti itu ?????

sy adalah salah satu putra bangsa negeri ini yg tidak seberuntung teman2 yg mampu mengenyam pendidikan di perguruan tinggi ,karna kondisi org tua sy waktu itu.tp alhamdulillah hidup sy kini berubah,dengan kerja keras dari usaha saya,saya bisa menghidupi kluarga saya dengan layak.
karna tidak mau pengulangan itu terjadi pada anak laki laki semata wayang kami, kamiingin pada saat nanti, putra kami mendapat pendidikan yg jauh lebih baik dari kami,mungkin di luar negeri, tentunya dengan biaya yg terjangkau oleh kami.
mohon info / referensi dari temen2 pembaca,yg mgk sudah punya pengalaman menyelesaikan (S1)atau pernah menyekolahkan putra/putrinya DI LUAR NEGERI .
info itu akan sangat berguna bg kami,mumpung putra kami saat ini masih duduk di bangku Kelas 10 ( SMU kls 1 )shg ada banyak waktu kami mendapatkan informasi.
Trima kasih dan SALUT buat bapk Joko Susilo atas info nya.
IMAM MUSTAQIM

Bagus banget ni artikelnya.. Best artikel.. Nggak rugi baca dari atas. Sangat membuka pikiran seseorang.. Mungkin semua warga indonesia pingin merubahnya. Tapi siapa yg bisa? Dengan sejuta alasan.. Warga sudah malas berpikir dengan pejabat yg selalu mementingkan dirinya.. Sebenrnya indonesia juga bisa seperti itu.. Namun harus ada ketegasan level 10.. Dimana sanksi harus ketat namun santai.. Dan pemerintahan bisa memulai pembenahan dengan mengirim tim khusus penyelidikan dalam dunia pendidikan (ya seperti anda ini) tidak hanya dalam pendidikan,ekonomi,etiika moral,sosial,dan intelektual. Dengan ketegasan pemerintah dan kedisiplinan rakyat makan semua bidang bisa bergerak lancar. Indonesia dalam kondisi sekarang.. Sangat tidak memungkinkan untuk berubah jika tidak mendapat pemimpin yg tegas.. Karna 1 indonesia malas berpikir sehingga malas mengerti keadaan lingkungan dan hanya berpikir bagaimana dapur bisa mengepul esok hari..

Post a Comment

    • Popular
    • Categories
    • Archives