Wednesday, June 1, 2011

Spirit Kertanegara dan Surabaya

Beberapa waktu lalu ketika media masa dan politisi di Jakarta meributkan deficit perdagangan antara Indonesia dan China setelah berlakunya China Asean Free Trade Agreement (CAFTA), kami para diplomat agak resah. Mengapa demikian? Di sejumlah mailing list, media, talk show banyak orang yang merasa diri sebagai pakar menuduh kami para diplomat ‘’lembek’’, lemah diplomasinya, gagal mengamankan kepentingan nasional dan sebagainya. Bahkan belum lama ini seorang anggota DPR berkomentar SARA terhadap seorang menteri. Sungguh sangat memprihatinkan.

Untuk menghibur teman – teman yang sempat down dengan berbagai tuduhan ngawur itu saya sampaikan bahwa kita semua ‘’anak cucu Kertanegara’’. Hal yang sama juga saya sampaikan kepada para pengkritik diplomat Indonesia yang harus saya akui, kemampuannya rata – rata jauh diatas para birokrat lain di tanah air. Bahkan jika dibandingkan dengan diplomat di kawasan Asia Pasifik, bukan hanya ASEAN, ketangguhan diplomat Indonesia sudah teruji. Layak kiranya, Pusdiklat deplu di Jakarta juga banyak dititipi Negara – negara ASEAN lainnya untuk ikut mendidik diplomat mudanya.

Saya selalu mengatakan bahwa kita ini semua ‘’anak cucu raja Kertanegara’’ untuk mengingatkan bukan hanya pelajaran sejarah, tetapi juga fakta bahwa dari zaman dahulu bangsa Indonesia adalah bangsa pemberani, tegas dan tatag, apalagi kalau sudah menyangkut kepentingan nasional. Banyak yang lupa, bahkan juga sebagian diplomat kita, bahwa diplomasi kita tidak hanya dimulai pada tahun 1945 dengan pidato Bung Hatta berjudul ‘’mengayuh diantara dua karang’’ yang menjadi dasar bagi kebijaksanaan politik luar negeri bebas aktif. Bagi saya eksistensi bangsa Indonesia ini kelanjutan dari kerajaan yang sudah pernah ada di bumi pertiwi ratusan tahun yang lampau, termasuk dari kerajaan Singasari.

Keberanian dan ketegasan raja Kertanegara ini tercatat dengan rapi baik dalam sumber – sumber sejarah China maupun Indonesia. Kitab Pararaton dan Kitab Negara Kertagama semuanya mendokumentasikan peristiwa yang mungkin di zaman modern pun tidak akan pernah terjadi: raja Kertanegara dan kerajaan Singasari berani menantang Kaisar Khubilai Khan dari kakaisaran Mongol dinasti Yuan yang berpusat di Tiongkok. Tantangan ini ibarat pemerintah Indonesia melawan Amerika Serikat dalam zaman modern.

Peristiwanya terhadi pada tahun 1289, ketika suatu hari istana kerajaan Singasari kedatangan utusan khusus (semacam duta besar di zaman modern) bernama Meng Khi. Kehadiran utusan ini mula – mula diterima dengan baik, sebagaimana misi diplomatic lain yang tiba di istana. Maklum, meski kerajaan Singasari terletak di pedalaman pulau Jawa, tetapi alur pelayaran di selat Malaka berada dibawah kekuasaannya. Dengan demikian  kekuatan besar dunia waktu itu, India, Persia, China, Siam, Khmer dan sebagainya semuanya memerlukan kontak diplomasi dengan Singasari.

Normalnya seorang diplomat pada zaman itu ialah datang dengan membawa hadiah cendera mata berharga dan lalu menyampaikan surat dari rajanya, semacam ‘’letter of credential’’ dalam tata hubungan diplomatic sekarang ini.  Tetapi duta besar Meng Khi ini karena merasa utusan dari Negara super power, berlagak jumawa. Memang, misi yang dibawanya menunjukkan arogansi kekaisaran Mongol. Dalam surat yang disampaikannya, Kaisar Khubilai Khan menuntut raja Kertanegara dan kerajaan Singhasari agar tunduk dibawah kekuasaan dinasti Yuan. Mereka minta Kertanegara berangkat ke Tiongkok dengan membawa upeti dalam jumlah besar sebagai tanda ketundukan kerajaannya kepada negara super power ini.

Pada zaman itu tak ada satu bangsa pun yang berani melawan pasukan Mongol. Pasukan kavalerinya sudah merambah dan menghancurkan bangsa- bangsa dari Hungaria dan Polandia, Russia, Baghdad dan seluruh Timur Tengah, sebagian India, seluruh Asia Tengah, Korea dan sebagian Asia Tenggara. Jepang terhindar dari kehancuran karena tertolong oleh angin topan Kamikaze yang menghancurkan armada Khubilai Khan dalam dua kali invasinya.. Mongol berhasil membangun kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia, melebihi Julius Caesar, Iskandar Agung, atau raja manapun baik dari eropa atau Asia.

W.H.Barlett dalam bukunya yang berjudul ‘’Mongols, From Genghis Khan to Tamerlane’’, mengatakan bahwa dalam menanggapi ultimatum Meng Khi atas nama Khubilai Khan ini, raja Kertanegara adalah paling inovatif.   Yakni dengan memotong kuping Meng Khi dan menulis jawaban sikapnya dengan mentato dahi utusan yang pongah itu.  .

Benar juga, tindakan raja Kertanegara mengundang kemurkaan luar biasa kaisar Khubilai Khan. Sebuah armada besar disiapkan untuk menghukum Singasari. Pasukan  berkekuatan  dua ‘’tumen’’ (nama satuan setingkat divisi dalam pasukan Mongol) dikirim untuk memberi ‘’pelajaran’’ raja Kertanegara atas sikapnya yang dianggap ‘’kurang sopan’’ tersebut. Pasukan ini dipimpin oleh tiga jenderal senior yakni seorang Mongol Shih Pe, seorang jenderal suku Uighur Ikhe Mase dan seorang jenderal China bernama Kao Hsing.

Kertanegara tidak tinggal diam setelah kepulangan Meng Khi. Dia sudah merasa sudah pasti akan ada pasukan invasi. Untuk itu, dia mengirimkan pasukan yang bernama Kespedisi Pamalayu yang dipimpin senopati Mahesa Anabrang yang mumpuni. Pasukan ini ditempatkan di kawasan Palembang, Bangka Belitung dan Jambi. Diperkirakan mereka akan transit dulu di daerah itu sebelum menyerbu Jawa. Kertanegara ingin menghabisi pasukan Mongol  dengan strategi apa yang kini terkenal dengan istilah ‘’forward defense’’.

Ternyata,  Kertanegara salah perhitungan. Pertama, ketika sebagian besar pasukan Singasari diberangkatkan untuk mencegat invasi pasukan Mongol, adipati Jayakatwang yang masih memendam dendam karena nenek moyangnya dikalahkan Ken Arok, pendiri kerajaan Singasari, melakukan serbuan kudeta yang malahan juga menewaskan sang raja. Kedua, pasukan invasi Mongol ternyata tidak transit di Palembang atau daerah sekitarnya sebagaimana jalur laut kapal – kapal dari Tiongkok waktu itu, tapi langsung menuju Tuban yang merupakan salah satu pelabuhan penting di laut Jawa saat itu.

Sebagaimana sudah ditulis dalam buku sejarah, mereka gagal menghukum raja Kertanegara tetapi dimanfaatkan raden Wijaya untuk menumpas raja Jayakatwang. Pasukan Mongol yang berjumlah 20.000 orang itu kabarnya bisa mengalahkan 100.000 pasukan Daha dalam waktu satu hari saja. Maklum, meski jumlahnya sedikit, persenjataan nya sudah lebih maju, diantaranya sudah mengenal bom dan meriam meski dalam bentuk yang sederhana.

Setelah sukses mengalahkan Daha, giliran pasukan raden Wijaya yang menghajar pasukan Mongol sehingga lari kocar kacir ke Ujung Galuh. Di kota yang kemudian berganti nama menjadi Surabaya inilah pada tanggal 31 Mei 1293, pasukan Mongol dibinasakan pasukan Majapahit. Sebagian menyerah dan sisanya yang bisa melarikan diri menuju kapalnya di Tuban buru buru kabur ke Tiongkok. Para komandan  invasi ini mendapat hukuman dicambuk oleh kaisar Khubilai Khan. Hanya Ike Masu, jenderal asal Uighur yang tidak dihukum karena dia sudah memperingatkan dulu kemungkinan akan adanya serangan dari pasukan Majapahit. Entah karena taktik yang jitu atau keteledoran pasukan Mongol, nyatanya mereka terusir dari Ujung Galuh. Wajar kalau kemenangan penting ini dirayakan sebagai hari jadi Surabaya.

Daniel Novotny, seorang ahli politik dari Ceko dalam bukunya berjudul “ Torn Between China and America’’ memberikan gambaran yang sangat jelas, sebagian orang Indonesia sampai sekarang masih bangga dengan keberanian raja Kertanegara melawan kaisar Mongol itu. Intinya, sekalipun waktu itu dinasti Yuan merupakan Negara terkuat di dunia, tetapi jika sudah menyangkut harga diri dan kedaulatan Negara tidak sudi menyerahkan diri begitu saja.

‘’Semangat raja Kertanegara’’ inilah yang kini saya mencoba ikut menanamkannya kepada generasi muda diplomat dan politisi Indonesia. Saya pernah secara acak mengetes beberapa pelajar dan mahasiswa Indonesia, nyatanya hanya sedikit yang mengetahui peristiwa ini. Jadi bagaimana mungkin akan mengambil pelajaran dan semangat Kertanegara jika diantara  kita banyak yang tidak mengetahuinya.

Dalam arti praktis, semangat ini bisa diwujudkan dalam  sikap untuk lebih memilih dan mendukung kepentingan nasional. Andaikata kita semua sepakat  melaksanakan semangat Kertanegara makadeficit neraca perdagangan Indonesia dalam rangka CAFTA tidak akan terjadi. Kita tidak akan membeli barang – barang produk asing yang murah tapi berkualitas jelek. Andaikata kualitasnya sama saja, kita tetap harus memilih produk domestik. Kita harus menjadi produsen bukan hanya konsumen yang menyebabkan devisa triliunan rupiah tiap tahun. Makanya dari sekarang, sikap boros dan kosumtif, suka ngelencer dan sebagainya kita hilangkan. Siapa yang harus mempelopori, yang terbaik tentu jika dimulai dari elite pemimpin kita (*)

By Djoko Susilo with 1 comment

1 comments:

Kisah yang seru! Terakhir saya membaca tentang ekspedisi Pamalayu mungkin jaman SD atau SMP saat belajar sejarah, tapi tidak sedetail ini. Maklum pelajaran sejarah di Indo mayoritas lebih dititikberatkan ke menghafal tokoh dan tanggal tanpa memahami esensinya. Menurut saya ini pendekatan mempelajari sejarah yang salah.. Sayang sekali kalau banyak orang Indo saat ini kurang mengenal nenek moyangnya sendiri, padahal banyak pelajaran yang bisa dipetik dari mempelajari sejarah.

Seharusnya kisah2 seperti ini yang diangkat menjadi film layar lebar di Indo. Bukan film2 hantu yang menjual seks dan ceritanya itu2 saja.

Thanks Pak, sudah menulis artikel ini! :)

Post a Comment