Sunday, November 6, 2011

Antara Nasionalisme dan Komersialisme N7W Komodo

Ketika saya tiba di Switzerland dan memulai tugas sebagai duta besar RI, salah satu langkah pro aktif yang saya lakukan adalah mengunjungi dan menggalang dukungan media massa untuk Indonesia. Untuk itu, saya mengunjungi berbagai kantor media massa di negara akreditasi saya tersebut. Umumnya mereka terheran - heran ada duta besar Indonesia mau berkunjung ke kantor koran, sebab rupanya pejabat sebelum saya belum ada yang mengunjungi kantor media di Swiss.

Salah satu pertanyaan saya jika ketemu rekan redaksi pemimpin koran atau TV di Swiss ialah apakah mereka mengetahui kegiatan yayasan New7 Wonders of the World yang bermarkas di Zurich. Ternyata tak seorang pun diantara para redaktur koran yang saya temui dari Tribune de Geneve di Jenewa  sampai Basel Zeitung  di Basel yang mengaku pernah mendengar dan apalagi mengakui kegiatan mereka. Bahkan para redaktur di TV SF1 dan koran Neu Zurich Zeitung (NZZ) yang merupakan media paling berpengaruh di Zurich mengaku tidak mengetahui apa dan dimana kantor, apalagi kegiatan N7W yang didirikan oleh Bernard Weber tersebut.
Oleh karenanya , setelah beberapa bulan saya menyerahkan surat kepercayaan kepada presiden Doris Leuthard, saya sudah siap menerima sejumlah delegasi dari jakarta yang mencoba mencari informasi mengenai kegiatan N7W  dan puncaknya bulan April yang lalu datang delegasi Kemenbudpar yang akhirnya muncul keputusan penarikan Indonesia dari ajang kontes N7W. KBRI sangat mendukung keputusan tersebut karena memang kegiatannya tidak jelas, manfaatnya untuk Indonesia, setidaknya di Swiss hampir tidak ada dan meminta fee yang cukup besar, sebesar 10 juta dollar, belum ongkos penyelenggaraan lainnya. Saya sangat lega dengan keputusan itu, tapi tiba - tiba saya kaget karena belangan di tanah air ada gerakan mengikuti voting komodo untuk N7W lewat sms. Ratusan juta orang kabarnya berhasil terbujuk untuk mengirimkan sms ke nomor tertentu. Hal ini sangat menggelisahkan saya.
 
Sekali lagi saya mengerahkan tim untuk menyelidiki N7W yang bermarkas di Zurich., saya juga mencoba mencari informasi lengkap baik di antara para pejabat, pengusaha ataupun media massa di Swiss. Hasilnya tidak menggembirakan. Yayasan N7W itu kesimpulannya yayasan yang kredibilitasnya patut diragukan.
Namun sejak KBRI Bern mengeluarkan penjelasan dan kronologi yang runtut yang intinya meragukan keabsahan voting model N7W, banyak komentar sinis ke saya. Diantaranya saya dianggap kurang nasionalis, tidak mau mendukuing promosi demi kepentingan nasional dan sebagainya. Dalam beberapa kesempatan, saya tegaskan bahwa mempromosikan komodo dan obyek wisata Indonesia adalah  tugas nasional tetapi tidak harus melalui N7W. N7W organisasi tidak bisa dipercaya dan kredibel untuk memberi gelar Tujuh Keajaiban Dunia Baru. Tertapi mereka sangat pandai memainkan emosi nasional kita. akibatnya kita terpancing untuk mengikuti permainan N7W
 
Saya sering memberikan contoh permainan N7W ini dengan kegiatan sejumlah organisasi yang menawarkan berbagai macam gelar yang ditawarkan  secara tidak jelas kriterianya kepada kita. Misalnya, banyak dinatara kita sering mendapat tawaran dianugerahi gelar 'eksekutif teladan', 'pengusaha berbusana terbaik', atau mendapat tawaran gelar doktor honoris causa, MBA, professor dan lain - lain asal membayar sekian puluh juta rupiah. modus operandi N7W sama saja. Kita akan diikutkan kontes N7W dengan membayar sejumlah uang dan dengan permainan ego nasionalisme kita, seolah kita sedang berkompetisi dengan bangsa lain, kita habis habisan mengerahkan daya dan dana untuk untuk memuaskasn emosi kita itu, diantaranya dengan mengirim sms seharga Rp.1000,¬ Tampaknya uang seribu tidak banyak tetapi ketika yang dibakar emosi sampai mengirim sms sebanyak 100 juta, setidaknya 100 miliar uang melayang.
 
Penelusuran tim KBRI kemarin menemukan dari pernyataan website N7W sendiri bahwa organisasi ini adalah yayasan yang mencari profit. Alias, organisasi N7W adalah organisasi yang mengejar keuntungan, bukan non profit seperti UNESCO. Dengan membakar emosi nasionalisme kita, maka pengelola N7W berhasil mengeruk devisa dan uang kita tanpa kita sadari. Bahkan hebatnya yang mempromosikan komersialisme Komodo itu adalah kita sendiri untuk kepentingan organisasi di Swiss ini.
 
Didalam website mereka: http://world.n7w.com/interesting¬questions¬and¬answer/ sangat jelas disebutkan : the new7wonders foundation whose original mission is to organize the global voting campaign and to ensure the objectives are met....as with foundations, who cannot themselves by statute operate commercially, New7Wonders has formally transferred the commercial operation to its licensing company, New Open World Corporation which then runs the commercial aspects to ensure the costs are covered and a surplus is generated by the end of the two campaigns.
 
Dari keterangan tersebut sangat jelas, agar tidak melanggar hukum Swiss maka sebagai yayasan, organisasi N7W menyatakan diri sebagai non profit, tetapi  mereka juga terang- terangan mengkomersialkan kegiatannya dengan tujuan mendapat keuntungan (surplus) melalui organisasi New Open World Corporation. Memang, ini  sistem yang canggih untuk mengelabui masyarakat dunia, khususnya Indonesia. Mereka juga tidak bisa menjelaskan kenapa kontes berlangsung selama 2 tahun dan bahkan untuk Filipina kabarnya akan berlangsung sampai 2012. Luar biasa akal bulus yang dipakai. anehnya, banyak diantara kita yang malas membuka internet. dengan Google: scam N7Worlds, akan banyak diperoleh informasi mengenai ketidak beresan organisasi ini.
 
Ketika saya disalahkan oleh seorang tokoh karena mencarim alamat N7W di Zurich seperti saya menanyakan warga kita lewat RT/RW dan saya diminta mengecek ke internet, kami di KBRI langsung bergerak meneliti website N7W. sebagaimana yang sudah dipublikasikan beberapa kawan lain, kesimpulan kami sangat jelas, website tersebut tidak bisa diopertanggung jawabkan. Hasil singkat openelusuran kami:  alamat URL nya bolong-bolong, beberapa informasi blog foundernya kosong, alamat kontak organisasi dan websitenya kosong. aneh memang, organisasi besar tetapi tidak mencantumkan alamatnya. meski katanya berpusat di Zurich, Swiss, alamat domainnya terdaftar di Republik PANAMA. ada yang aneh lagi, meski domain website terdaftar di Panama, alamat administratif kontaknya di kampung bernama Drums, PA (Pennsylvania) di Amerika Serikat karena rupanya menyewa P.O.Box 459 disana. Soal alamat ini meski sudah di zaman dunia maya tetap menjadi pertanyaan. apa bedanya organisasi ini dengan tawaran bisnis investasi palsu dari sejumlah negara Afrika yang mensyaratkan membayar fee dalam jumlah tertentu yang nyatanya berujung pada sebuah penipuan saja. Dari data statistik, ternyata pengunjung ke website mereka ini paling banyak adalah mereka yang IP address nya Indonesia. alias kita ribut sendiri dan ramai ramai mengakses website N7W dan kita klaim Komodo paling populer padahal yang mengakses ya warga Indonesia sendiri. N7W sama sekali tidak melakukan apa-apa kecuali mengutip fee sebagaimana disyaratkan dalam websitenya.
 
Tak diragukan lagi bahwa keguiatan N7W dengan mengirim sms meski hanya senilai Rp.1000,- atau berapapaun tetap merupakan kegiatan yang merugikan masyarakat. marilah kita promosikan komodo dan obyek wisata tanah air lainnya tanpa harus melalui organisasi seperti N7W yang tidak jelas kontribusinya untuk bangsa dan negara.

By Djoko Susilo with No comments

0 comments:

Post a Comment