Sunday, November 6, 2011

Mengubah Wajah KBRI

Ketika saya tinggal di Washington DC sebagai koresponden Jawa Pos pada tahun 1988 sampai 1992, salah satu rasan-rasan paling populer yang beredar  dari mulut ke mulut di antara expatriat Indonesia di Amerika Serikat ialah: jangan berurusan dengan KBRI  kalau tidak sangat terpaksa. Pesan itu ternyata bukan hanya populer di Amerika, sebab ketika saya tinggal di Inggris antara tahun 1994 sampai 1998 pun keadaannya sama saja. Pendeknya, KBRI adalah   lembaga yang tidak populer, sama tidak populernya orde baru saat itu.
Bukan saja KBRI tidak populer, perilaku para diplomat RI pun sering jadi gunjingan. Yang  pertama, tentu saja kemampuan bahasa asingnya yang dianggap lemah, kedua terlalu lebih banyak mengurus pejabat daripada masyarakat, ketiga bersikap sangat birokratis.  dan masih banyak lagi lainnnya. Saya ingat pernah suatu saat saya ditegur seorang Mayor dari kantor atase pertahanan gara-gara saya membesuk Letjen Sarwo Edhi Wibowo (mertua presiden SBY) yang dirawat di rumah sakit Walter Reed. Saya dianggapnya lancang karena tidak minta izin kepada mereka. Apalagi ketika saya berkunjung  kesana, ternyata tidak ada seorangpun penjaga dari KBRI. Rupanya pihak athan kena tegur dari Jakarta setelah saya menulis kunjungan itu dan dimuat di koran Jawa Pos.
 
Oleh karenanya, begitu badai reformasi melanda Indon esia dan saya masuk Komisi I DPR RI, reformasi perwakilan diplomatik menjadi salah satu agenda. Beruntung di pihak kementerian luar negeri pun angin perubahan juga berhembus kencang, khususnya ketika DR Hassan Wirayudha menjadi orang nomor satu di Pejambon.  Perombakan besar -besaran pun dilakukan. Dari segi organisasi, jenjang karier sampai urusan perekrutan diplomat dirombak total. Jika sewaktu zaman ,,jahiliyah''  di deplu dulu seorang pejabat tinggi bisa saja seenaknya menitipkan anak, keponakan atau siapa saja untuk menjadi diplomat atau malahan sekedar staf lokal di KBRI di berbagai penjuru dunia, oleh Hassan Wirayudha semuanya dibabat habis.
 
Kalaupun saat ini kebetulan ada anak-anak mantan atau pejabat kemlu, termasuk putri mantan menlu Hassan Wirayudha, semuanya masuk karena tes bebas dan obyektif. Umumnya anak pejabat ini juga memiliki pendidikan yang hebat,  misalnya anak mantan Menlu Hasssan Wirayudha yang jadi diplomat adalah lulusan Universitas Sorbonne, Paris. jelas bahasa Inggris dan Prancisnya sangat fasih.  anak pejabat deplu lain yang mengikuti karier bapaknya umumnya juga lulusan luar negeri baik perguruan tinggi di Amerika Serikat, Eropa, Australia dan sebagainya. Pendeknya mereka adalah the best among the best generasi muda Indonesia. Maklum saja, dari 11.000 pelamar hanya diambil sekitar 100 calon diplomat muda.
 
Perubahan dalam pelayanan pun juga dilakukan habis habisan. Sewaktu di DPR saya minta kalau ada staf lokal atau diplomat yang sudah tidak bisa lagi tersenyum, jangan lagi ditugaskan dibagian konsuler yang merupakan ujung tombak pelayanan. Di KBRI Kuala Lumpur, dulu untuk memperpanjang paspor saja ongkosnya perlu 800 ringgit atau hampir sebulan gaji TKW dan waktu hampir 5 minggu, itupun lewat calo. Sekarang cukup 3 jam dengan beaya hanya 22 ringgit tanpa calo.
Perubahan itu terjadi hampir di seluruh KBRI di manapun, termasuk KBRI Bern yang saya pimpin. Sayangnya selama ini masih banyak warga yang tidak tahu, khususnya LSM yang sering berteriak tanpa mengecek fakta. KBRI atau KJRI sekarang bukan sosok lembaga pemerintah yang menakutkan dan hanya bertugas melayani pejabat, tetapi melayani seluruh warga masyarakat. Tapi, masyarakat sendiri yang sering mempersulit.
 
Misalnya, hal yang penting ialah ketentuan daftar diri. Banyak mahasiswa atau warga tinggal bertahun - tahun di suatu negara tetapi enggan mendaftarkan diri ke KBRI. akibatnya jika terjadi apa-apa, sangat sulit KBRI memberikan bantuan. Bahkan paling parah, sudah terjadi masalah tidak lapor juga ke KBRI. saya ambil contoh beberapa waktu lalu seorang turis asal Atambua, NTT kolaps di interlaken. Tur leader dari Indonesia ternyata hanya memanggil ambulans dan meninggalkan di sebuah rumah sakit ditemani istrinya yangs udah tua (sekitar 62 tahun). Tur leader ini tidak mau menelpon ke KBRI Bern yang jaraknya hanya sekitar 40 km. kedua turis ini ditinggalkan begitu saja, dan KBRI Bern baru tahu dua hari kemudian karena ada telpon dari keluarganya di jakarta. saat itu kondisi pasien sudah agak parah dan harus dikirim ke Rumah Sakit pusat di Bern dengan helikopter. Dengan bantuan KBRI Bern pula visanya yang nyaris expire bisa diperpanjang dan dua anaknya yang di jakarta bisa mendapatkan visa bilateral secara mendadak. setelah dua minggu dirawat dan keadaan stabil, KBRI membantu menyewakan pesawat untuk mengevakuasi pasien itu ke Kuala Lumpur.
Awal tahun ini, seorang pelajar yang baru beberapa minggu tiba meningggal dunia.  Untung sudah mendaftar sehingga dengan cepat bagian konsuler bertindak menanganinya. jenazah pelajar ini dengann cepat tertangani dan diantar pulang oleh staf diplomat KBRI Bern sampai di kampungnya sebuah desa di Magetan, Jatim. Memang prosedur tetap bagi KBRI ialah jika ada warga yang meninggal, harus diantar dan diserah terimakan ke keluarganya di Indonesia dimanapun.  Soal beaya dan bagaimana urusannya, itu urusan duta besar seperti saya ini.  Namun sekali lagi, amat sangat sulit mengimbau warga Indonesia untuk mendaftarkan diri ke KBRI agar memudahkan urusan jika ada sesuatu masalah.
 
Selain mengubah pola pelayaanan yang pro masyarakat, saya juga mengubah penampilan. Jika dulu  para diplomat ke kantor harus pakai stelan jas lengkap, kini staf KBRI Bern saya minta pakai batik saja, kecuali ketemu presiden atau menteri. Malahan beberapa waktu lalu didepan beberapa teman wartawan yang kebetulan berkunjung ke Bern saya mendeklarasikan KBRI Bern adalah KBRI  Batik. saya sendiri konsekwen mengenakan batiki kemana saja, termasuk menghadiri jamuan diplomatik dengan pighak lain. Bukannya dikecam, malahan sejumlah kolega saya , para duta besar negara sahabat malahan memuji batik saya, tercatat duta besar Belanda, duta besar Afrika Selatan, Colombia dan masih banyak lagi memuji baju batik saya. ''Pak Mandela sangat senang dengan batik Indonesia '' kata George Jones, dubes Afrika Selatan sahabat saya yang mengaku agak kecewa karena baju batik hadiah dari saya diminta oleh anaknya.
 
Sikap ngotot saya pakai batik kadang-kadang mengherankan tamu-tamu yang datang dari Jakarta. Umumnya mereka menemui saya dengan stelan lengkap, ternyata dubes RI di Bern hanya memakai batik saja di kantornya.  sikap keras berbatik ria ini rupanya sudah mulai menular diantara warga. Beberapa orang Swiss yang sering berinteraksi dengan Indonesia pun mulai bangga dengan memakai batik. sayangnya belum ada butik batik di Swiss. kalaupun ada yang jual batik, biasanya kualitasnya kurang bagus sesuai selera eksekutif di Swiss.
 
Hal lain yang saya rombak ialah urusan perjalanan dinas. saya ngotot dalam melakukan perjalanan saya hanya mau pakai KELAS EKONOMI  baik penerbangan internasional ataupun domestik. keputusan saya ini sempat dianggap aneh, seorang staf saya sempat ada yang nyeletuk, '' pak, ada kawan saya baru menjabat sebagai Kuasa usaha ad Interim (kepala perwakilan sementara)kemana mana sudah meminta fasilitas klas bisnis jika naik pesawat. bagi saya ini suatu pemborosan.  Jika satu tahun dua kali saja saya pulang ke Jakarta dengan naik Singapore Airlines, negara harus mengeluarkan dana sekitar 13.000 CHF. Dana sebesar itu cukup untuk membeli 10 ticket ekonomi  jakarta - Zurich untuk mendatangkan pemain tari, ustadz atau dosen yang bisa memberikan ceramah  di Swiss dan kegiatan promosi  lainnya.
 
''Biarlah saya naik klas ekonomi, toh juga aman dan selamat sampai tujuan, asal dana itu bisa dipakai kegiatan lain yang positif,, tekad saya.  Sejak dulu saat menjadi wartawan Jawa Pos, di DPR atau menghadiri undangan seminar inbternasional pun sudah biasa naik pesawat di klas ekonomi. apa sih bedanya sebagai duta besar, apalagi ini uang negara yang harus saya hemat.  Berkat penghematan ini, saya sudah bisa mengundang beberapa pakar dari  Indonesia berkunjung ke Swiss, dan juga sedang kami proses  mengirim wartawan Swiss ke Indonesia untuk membuat liputan tentang obyek turisme dan perdagangan yang memang perlu dipromosikan.
 
Saya hanya ingin sedikit menyumbang dengan tidak bersikap boros.....

By Djoko Susilo with 4 comments

4 comments:

Saya merasa tulisan anda selslu membuat saya untuk berbuat sesuatu, selalu ada semangat lakukan lakukan dan lakukan. salam dari pandaan anda sekeluarga.tetap jaga idealisme.

Salut kepada bpak yang sdah mau mempromosikan budaya Indonesia,,,itulah perbedaannya kalau seorang Diplomat(Dubes) berasal dari institusi bisa dengan leluasa berbuat atau bisa mereformasi, lain halnya dengan yang berasal dari dalam,....Bagaimana dengan LOKAL STAFF? seringkali Lokal Staf di lecehkan, terutama oleh Dubes/staff yang berasal dari dalam, banyak sekali hal ini terjadi di berbagai perwakilan..mereka sukanya naik peswat kelas bisnis di banding kelas ekonomi,,,bagaimana nasib LOKAL STAFF yang sering di jadikan SAPI PERAH di beberapa perwakilan RI di Luar Negeri?Tidak ada nya kesejahteraan bagi mereka, gaji hanya naik 5% per 2tahun, sedangkan inflasi pertahun tinggi sekali pak??

dan saya pun sedang mengalami masalah dengan KBRI setahun terakhir ini tentang korupsi mereka tentang Dubesnya yang menelantarkan TKI lengkapnya da disini
http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000015211179
atau di
http://forum.kompas.com/nasional/99741-mudahnya-menyelewengkan-bea-jalandinas-di-kbri-mexicocity-serta-membuat-nota-bodong.html

Mohon Dukungan

jadi tahu banyak info tentang kbri
thanks alot

Post a Comment