Friday, February 24, 2012

Sistem Pertahanan Semesta di Switzerland





Setiap jumat, hampir bisa dipastikan jika kita ke stasiun kereta api, akan bertemu dengan sejumlah anak muda yang berseragam militer dan membawa ransel di pundaknya menunggu kereta.
Biasanya datang bersama satu regunya.
Mereka ini bukan tentara seperti di tempat kita, tetapi
anak muda yang sedang menjalani wajib militer.
Sebab di Swiss tidak banyak yang menjadi anggota tentara biasa, tetapi semua rakyat harus menjadi tentara.

Undang-undang Wajib Bela Negara di Swiss memang mengharuskan setiap anak laki laki muda berusia antara 19 sampai 34 tahun wajib mengikuti latihan militer. Sekitar 2/3 anak muda terkena kewajiban ini, sedang perempuan sifatnya sukarela. Jumlah masa wajib militer ini selama setahun, bisa dicicil perbulan setiap tahun, atau bisa ikut satu tahun penuh selama masa wajib militer itu. Pada masa menjalani wajib militer, tentara Swiss harus menyimpan perlengkapan militernya di rumah. Maka, Swiss merupakan salah satu negara yang per kapita menyimpan senjata dirumah pribadi. Diperkirakan ada sekitar 2 juta rumah tangga yang menyimpan senjatanya di rumah.

Dari 7,6 juta jiwa rakyat Swiss, diperkirakan ada sekitar 3,6 juta yang bisa menjalani dinas militer. Dari Jumlah itu yang layak bertempur, baik laki-laki maupun perempuan untuk maju di garis depan sekitar 2,8 juta atau lebih dari sepertiga jumlah penduduk. Dengan demikian jika mau mengalahkan Swiss, secara teoritis harus mengalahkan semua penduduk yang mampu mengangkat senjata. Misalkan ibu kota Swiss, Bern jatuh ke tangan musuh belum tentu warga di Jenewa atau Zurich menyerah. Sebab konstitusi Swiss juga melarang kota atau Kanton membuat pernyataan kalah atau memaklumkan perang terhadap negara lain. Hanya pemerintah federal yang mempunyai hak menyatakan perang dan mengakhiri peperangan dengan negara lain.

Dalam sejarah modern Swiss, sejak diperlakukannya konstitusi modern pada tahun 1845, militer Swiss hanya tiga kali mengalami mobilisasi umum. Pertama tahun 1874 menjelang terjadinya perang Prussia melawan Jerman. Tentara Swiss di bawah pimpinan Jenderal Hans Herzog dikerahkan menjaga perbatasan secara ketat di wilayah pegunungan Alpen dan khususnya ke wilayah Jenewa, Basel, Neuchatel, Zurich dan sebagainya yang berbatasan dengan kedua negara yang berperang. Sikap tegas Swiss yang mengamankan perbatasannya, dan bersiap perang habis – habisan menghindarkan Swiss dari ancaman Jerman yang saat itu di bawah pimpinan kanselir Otto von Bismarck yang terkenal keras.

Mobilisasi kedua terjadi di tahun 1914 di bawah Jenderal Ulrich Wille, menjelang perang dunia I. Tanpa ragu-ragu jenderal ini mengerahkan pasukan Swiss memperketat perbatasan dengan Jerman, Austria dan Liechstentein.  Meski di atas kertas akan kalah melawan Jerman, namun ketika kaisar Wilhelm II mengunjungi Swiss dan melihat kesungguhan persiapan militernya, akhirnya membatalkan keinginan beberapa pihak di Jerman yang berkeinginan menyerbu Swiss. Medan Swiss sendiri cukup sulit dengan kondisi bergunung-gunung dan rakyatnya dikenal tidak gampang menyerah. Siapapun yang pernah berfikir menyerang Swiss tentu menyadari sulitnya medan yang akan dihadapinya. Artinya, jika dihitung dengan sangat cermat, maka antara ongkos dan keuntungannya dirasa tidak akan sebanding.

Mobilisasi ketiga terjadi pada masa perang dunia II di bawah jenderal Henri Guisan. Situasi saat itu jauh lebih sulit karena baik pihak sekutu maupun Nazi Jerman sering melakukan pelanggaran wilayah udara maupun darat Swiss. Lebih parahnya pada awal perang, Swiss
dikepung oleh kekuatan musuh. Di utara Jerman Nazi yang sangat kuat, di barat terdapat pemerintahan pendudukan Jerman di Prancis, di Timur terletak Austria yang dikuasai Jerman dan di selatan dikuasai pemerintahan fasis Italia di bawah Bennito Mussolini. Beberapa kali kekuatan fasis Jerman berusaha mengganggu Swiss, bahkan abwehr atau markas besar tentara Jerman sudah merancang sebuah operasi militer untuk menyerang Swiss. Tapi tanpa ada alasan yang jelas, Hitler membatalkan rencana tersebut.

Pada masa perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, posisi Swiss juga terjepit. Agen rahasia USSR KGB, Stasi Jerman Timur, CIA, MI5, Mossad sering mengunakan Swiss
untuk operasinya di Eropa. Sebagai pihak yang netral, Swiss menjadi idola bagi agen intelijen untuk melakukan kegiatan spionase-nya. Hal ini didukung dengan fasilitas perbankan, diplomatik, transportasi, akomodasi kelas satu menjadikan Swiss tujuan yang utama.

Pihak berwajib bukannya tidak tahu operasi klandestine semacam itu, tetapi mereka sengaja tidak bertindak selama tidak ada pihak yang dirugikan. Dalam banyak hal posisi ini malahan bisa menguntungkan. Karena berposisi netral, Swiss ternyata juga memproduksi peralatan intelijen yang handal yang dipercaya di seluruh dunia. Indonesia, termasuk salah satu negara yang menggunakan peralatan keamanan buatan Swiss.

Oleh karena tugas militer terutama untuk menghadapi ancaman dari luar, maka postur pertahanannya bersifat defensive. Secara strategis disebut forward defence. Swiss sangat mengandalkan perbentengan alam yang berupa gunung-gunung, lembah dan sungai yang banyak. Musuh untuk bisa memasuki wilayah Swiss harus banyak menghadapi hambatan dan rintangan. Jadi jelas akan sangat butuh biaya dan korban yang besar untuk menyerang Swiss.

Meski demikian, jumlah pasukan Swiss sangat kecil, saat ini berjumlah sekitar 135.000 orang, dan di antara jumlah itu hanya kurang dari 5.000 orang yang merupakan anggota pasukan tetap. Dengan kata lain, yang 130.000 orang adalah pasukan milisi yang direkrut dari wajib militer. Namun demikian dalam kadaan darurat dan dilakukan mobilisasi umum, semua warga negara akan siap mengangkat senjata.

Seorang kawan saya Fabio Rossi, yang berpangkat kapten AD Swiss, pernah berceritera bahwa, sekalipun wajib militer, tetapi karena ada aturan yang mengharuskan untuk latihan dalam waktu tertentu, keterampilan menggunakan senjata individu lumayan baik. Disamping itu, dalam kehidupan sipil, sangat mungkin satu pleton bekerja bersama hampir sama dalam struktur militernya. Misalnya sang letnan menjadi manajer, sedang sersan dan prajurit lainnya menjadi anak buahnya. Dengan demikian esprit de corps tetap terjaga. Jika ada serangan mendadak, mereka sudah terlatih untuk bergerak dalam organisasi militer yang jelas.

Hal lain yang menyebabkan militer Swiss cukup kuat, selain konsep dan strategi perang total semesta, anggaran yang dialokasikan pun cukup besar, hampir 4 CHF miliar atau lebih dari 40 trilyun rupiah. Dengan dana yang cukup besar ini, wajar seungguhnya tentara Swiss bisa hidup sejahtera dari gaji dan fasilitasnya. Meski demikian, lebih banyak yang memilih karier di sipil meski juga siap mengangkat senjata jika diperlukan. Meski jumlahnya sedikit, peralatan militer yang dimiliki tentara Swiss cukup baik. AD Swiss mempunyai sekitar 250-an tank Leopard buatan Jerman yang terkenal canggih. Mereka juga memiliki sejumlah kendaraan personil lapis baja, panzer dan kendaraan tempur darat lainnya. Selain itu, bangunan dan tunnel Swiss dirancang begitu rupa yang dipakai untuk bisa berlindung baik untuk kendaraan dan satuan militer maupun penduduk sipil jika terjadi serangan udara. Kapasitas tampungnya mencapai 114% atau lebih dari cukup untuk menampung seluruh warga negara.

Jajaran AU Swiss diperkuat tidak kurang oleh 34 F-18 Hornet, 54 F-Tiger. Dengan pesawat canggih ini, memang agak merepotkan karena jarak terjauh di Swiss dari ujung barat di Jenewa sampai ujung timur di St Gallen hanya sekitar 348 km yang bisa dicapai dengan pesawat jet dalam tempo 20 menit. Oleh karenanya, pilot Swiss agak berbeda dengan koleganya di AD Swiss, dimana mereka menegaskan hanya siap bertugas pada waktu jam kerja saja. Sebab dengan wilayah udara yang sangat sempit, mereka sebenarnya merasa tidak banyak berperan dalam perang yang sesungguhnya. Oleh karena itu fokus tetap pada pertahanan darat, khususnya pada satuan pegunungan yang memang sangat menjadi andalan pasukan Swiss.

Namun demikian, satuan udara Swiss banyak melakukan latihan karena dipersiapkan jika keadaan darurat atau membantu bencana alam di tempat lain. Pilot Swiss terkenal mempunyai skill yang sangat tinggi. Mungkin karena terbiasa terbang di daerah pegunungan sehingga mereka terbiasa dengan medan sulit. Sebuah kelompok keagamaan di Indonesia pun banyak memanfaatkan tenaga pilot helicopter Swiss dalam kegiatannya di pedalaman Kalimantan, Papua dan sebagainya. Reputasi pilot Swiss yang baik menjadikan mereka andalan untuk bertugas di daerah sulit di berbagai belahan penjuru dunia.

Entah mungkin karena kurang suka militer atau lembaga sejenisnya, pada awal tahun 1980an pernah ada referendum yang bertujuan menghapus lembaga militer. Kelompok kiri yang memprakarsai referendum ini berpendapat bahwa militer adalah kelompok orang yang tidak produktif dan hanya menghabiskan dana saja, oleh karenanya Swiss perlu menghapus tentara. Namun usulan itu kandas di tengah jalan, dan bahkan jajak pendapat yang dilaksanakan setelah terjadinya serangan teroris 9/11 di New York menunjukkan bahwa lebih dari 77%
penduduk masih merasa perlunya ada lembaga militer.

Dengan hanya memiliki tentara regular yang sangat kecil, dan dengan budjet yang kecil menurut standar Eropa, Swiss mampu mengalokasikan APBN nya untuk hal-hal yang lebih produktif, misalnya untuk pendidikan dan kesehatan. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika kualitas pendidikan di Swiss termasuk salah satu yang terbaik di dunia. Bukan hanya itu, tingkat produktifitas pekerja di swiss juga sangat tinggi. Sebuah pabrik sangat jarang mempunyai karyawan di atas 100 orang meskipun menghasilkan pemasukan miliaran Swiss Frank. Sebuah perusahaan alat keamanan Omnisec di Zurich pegawainya hanya 50an orang, tetapi pendapatannya tidak kurang dari 9 miliar dollar. Tampaknya hal ini sesuai dengan negara Swiss, small but beautiful and productive…..

Dalam bulan Oktober yang lalu, kami di KBRI Bern mendapat kehormatan menerima tamu rombongan siswa Lemhanas. Para peserta yang umumnya berpangkat Kolonel senior itu, beberapa di antaranya malahan ada yang berbintang satu, dengan antuasias menghadiri dialog dan sejumlah acara yang kami gelar baik di KBRI maupun dengan kantor pemerintah Swiss. Inti pertanyaan nya umumnya berkisar, bagaimana Swiss yang kecil ini akan bisa mempertahankan diri jika diserang lawan. Jawabannya sederhana: mengalahkan Swiss berarti harus menundukkan semua orang yang menjadi warga Swiss.

Dengan kata lain, nyaris tidak mungkin melakukan pendudukan di Swiss sebab pasukan pendudukan akan menghadapi setiap orang yang mengaku dan merasa sebagai orang Swiss………

(Bern 6 February 2012)

By Djoko Susilo with 4 comments

4 comments:

Diriku berandai : jika konsep dan strategi pertahanan itu diaplikasikan di indonesia, tentunya disisi lain tdk perlu ada demo yg sangat brutal dan saat ini sering sekali terjadi perang sodara seperti di lampung 3 bulan yg lalu. Seandainya sj setiap warga indonesia diwajibkan belajar militer,pastinya mungkin cerita dan berita yg tersiar ttg Indonesia akan berbeda. s Kenyataanya Tawuran dan genk motor yg semakin marak malah menambah warna kemerosotan sikap dasar dan mental anak2 Ind.nah ini, yg kita tdk tau apakah Ind mampu sprt Swiss yg mengalokasikan budget yg sangat besar u pertahanan semestanya, mungkin ini sebabnya, indonesia belm mampu memerangi perang dlm negara sendiri.. Yaitu mental..oh mental... Semoga...dan kelak..atau suatu saat nanti.

maaf, sedikit tidak mengenakkan disimak. bagi saya tawuran, kerusuhan maupun aksi kekerasan lainnya di indonesia menunjukkan bahwa keberanian bangsa indonesia ini belum hilang, hanya saja salah pada penerapannya. hal ini bila dibandingkan dengan swiss tentu sangat berbeda,kenapa? karena swiss berbeda dalam beberapa hal bila dibandingkan dengan indonesia. pertama, indonesia adalah kepulauan, banyak suku, terpisah, dan semua konsekuensinya. setiap suku bangsa memiliki kebudayaannya sendiri yang sering kali berbeda dengan banyak suku bangsa lainnya. tentu agak sulit juga menyatukan semua pandangan ini, dilain hal mengkoordinir daerah yang terpisah juga cukup sulit, tidak semudah swiss. kedua (mungkin) adalah jiwa ke-indonesia-an orang indonesia yang belum terbangun. contoh mudahnya saja, tulisan di papan reklame dianggap bagus bila memakai bahasa inggris, pakaian yang bagus kalau yang dari barat dan bla bla bla.
sekarang bicara solusi, atau kemungkinan sajalah, bisa atau tidak indonesia seperti swiss? jawabannya bisa. kalau kita cermati, swiss bisa sampai seperti itu karena rakyatnya mempunyai jiwa memiliki atau kebanggaan sebagai orang swiss. hal ini menyebabkan bila sebagian swiss terganggu, maka ia akan merasa ikut terganggu. kemudian rasa memiliki itu diikuti dengan ilmu atau perencanaan dan usaha yang luar biasa. bisa kita ketahui dari perencanaan kotanya, efektifitas pekerjanya dan lain lain. kalau di indonesia? membangun jalan tol belum sampai jadi sudah putus,maaf tapi konyol sekali. dpr bisa sampai sekian banyaknya anggota, sedangkan kerjanya apa?
dari pada jauh-jauh kita memikirkan kekurangan indonesia, lebih baik kita pikirkan kekurangan diri sendiri bila dibandingkan dengan warga negara swiss. kita perbaiki diri, keluarga, tetangga dst. generasi sekarang bobrok mau diapain lagi, yang penting selanjutnya harus lebih baik. seperti swiss? bisa!

Ya salah satu kekuatan Swiss adalah culture spiritual dan intelectual, revolusi pertama didunia yaitu Revolusi Perancis dari Pemikir Geneva, Voltaire dan JJ Rossau, Albert Einstain dari Basel, keindahan Jam tangan, penduduknya yang sangat ramah dan tidak mencurigai pendatang dll. Sehingga Hitler yang keras tidak mau menyerang Swiss karena kesucian culture Swiss.

Mas Djoko Susilo baru beberapa tahun bertugas di Swiss sdh bs mengulas karakter bangsa dan negara Swiss dg begitu cermat, sementara jk sy bandingkan dg catatan Mas Djoko saat awal bertugas di KBRI Bern, buku tentang Swiss koleksi perpustakaan KBRI sdh berumur 25-30 tahun .. hehhh! Gemes aku ! Sy tidak tdk tahu bgm profil msg2 individu korps diplomatik kita di LN dibentuk oleh negara. Jangan2 impian mereka saat akan menjadi diplomat adalah bgm mrk bs melancong di LN dg gratis. Pantes sj banyak WN kita di LN yg menderita krn kedzholiman pihak lain tdk mendapat penanganan scr layak ... bahkan lebih parah lg, masih ada oknum KBRI/Konjen yg tega mempungli mrk ... menjijikkan ! Mas Djoko, sy nitip satu pertanyaan ut org2 korp diplomatik kita yg Sampean temui (kecuali Sampean sendiri lho), yaitu : "Bagaimana Indonesia 30 tahun yang akan datang, menurut pandangan Anda ?" (Budi-Porong, Sidoarjo).

Post a Comment