Thursday, August 23, 2012

Ketika Bangsa Mengabaikan Sejarah

Setiap warga Swiss, khususnya anak - anak pelajar sekolah pasti tahu persis apa makna peringatan hari nasional tanggal 1 Agustus. Mereka juga tahu mengapa harus memperingati hari nasional tersebut. Dari pelajaran di sekolah maupun dari ceritera popular mereka tahu bahwa pada tanggal 1 Agustus 1292 nenek moyang bangsa Swiss bersumpah bersatu padu untuk melawan penjajah AUSTRIA yang waktu itu mulai merambah wilayah Swiss.

Orang Swiss pasti juga tahu kisah heroik William Tell, pahlawan rakyat yang memimpin perlawanan sehingga bangsa Swiss berhasil terhindar dari penjajahan bangsa lain. Kisah Tell dengan buah apel yang dipanahnya tepat diatas kepala anaknya yang masih kecil merupakan legenda yang dihafal hampir semua warga Swiss. Tidak ada yang tidak tahu kisah William Tell dan buah apel tersebut yang meskipun sudah  terjadi lebih dari tujuh ratus tahun yang lalu bisa dikatakan terasa baru terjadi kemarin saja.

Bangsa Swiss meski sangat modern dan makmur dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi, kemampuan teknologi dan finansial yang sangat luar biasa tidak pernah melupakan sejarah. Hampir di setiap kanton terdapat museum rakyat atau volkmuseum yang menyimpan benda benda bersejarah tingkat local. Bahkan kadang-kadang museum itu juga memamerkan benda-benda bersejarah dari bangsa lain, misalnya museum rakyat Zurich tahun lalu selama enam bulan memamerkan benda – benda budaya asal Kalimantan Timur  juga museum rakyat di Lugano dalam periode yang hampir sama memamerkan koleksi ‘’sempuyung’’ dan benda – benda seni lainnya dari Kalimantan Tengah dalam waktu juga hampir enam bulan. Meskipun pemprov Kaltim dan Kalteng diundang juga untuk menyaksikan pameran budaya daerahnya, sampai pameran tutup tidak satupun wakil dari kedua daerah itu yang dikirim untuk melihatnya.

Saya pernah menanyakan kepada beberapa orang kurator museum di Swiss, mengapa pemerintah dan masyarakat Swiss sangat menyukai museum dan sejarah. Bahkan bulan lalu mereka menghabiskan dana hampir Rp. 200 miliar merenovasi museum Basel yang diantaranya dipakai memamerkan koleksi tekstil dari Nusantara  yang sudah berusia ber abad - abad lamanya. Jawaban para kurator dan tokoh Swiss sangat tegas: dengan mengetahui sejarah lewat museum itu maka cinta tanah air dan nasionalisme itu makin kuat. Ini dibuktikan dengan pola konsumsi bangsa Swiss, meski produk buah atau barang lain asal Swiss sedikit lebih mahal, konsumen tetap akan memilih barang made in Swiss lebih dulu dari pada barang produksi luar negeri. Mereka pun yakin bahwa barang produksi Swiss lebih berkualitas dibandingkan produksi dari Negara lain.
Dalam konteks sejarah ini pula saya pernah mendapatkan informasi dari teman – teman pejabat senior di kementerian luar negeri bahwa pengetahuan nasional dan sejarah sarjana yang melamar sebagai calon diplomat umumnya sangat  buruk. Teman saya menceriterakan pengalamannya mewawancarai calon diplomat ini, dari sepuluh orang yang ditanya tak satupun yang bisa menyebutkan dengan benar dimana letak kota Poso, padahal waktu itu krisis sectarian di wilayah itu masih menjadi berita nasional. Hanya ada satu yang menjawab agak benar yakni di Sulawesi tetapi ketika dikejar lebih lanjut di bagian mana di wilayah Sulawesi kota Poso itu yang bersangkutan juga tidak bisa menjawab dengan benar.

Saya juga pernah secara informal berbicara di depan sekelompok diplomat muda dan menanyakan pengetahuan mereka tentang pengusiran duta besar Meng Khi dari kekaisaran Mongol dynasty Yuan  dibawah pimpinan kaisar Khublai Khan. Tak seorqang pun yang bisa menjawab dengan baik bahwa hal itu dilakukan oleh raja Kertanegara dari kerajaan Singhasari yang tidak mau tunduk dibawah tekanan asing meskipun saat itu kekaisaran Mongol adalah super power dunia yang berkuasa dari China sampai Eropa Tengah. Saya menanyakan ini supaya mereka para diplomat muda itu punya kebanggaan bahwa nenek moyang mereka dulu tidak takut melawan super power dunia. Kita tidak boleh menjadi bangsa penakut, tetapi bangga dengan sikap berani yang ditunjukkan raja Kertanegara.  Namun pendapat saya ini tidak sepenuhnya disetujui teman – teman kalangan korps diplomatik, sebab yang mengusir duta besar Meng Khi dari negara super power dynasty Yuan itu adalah raja Kertanegara dari Singasari, bukan pemerintah Republik Indonesia.

Saya menganggap ada hubungan historis antara kerajaan – kerajaan yang pernah berkuasa di tanah air dengan bangsa Indonesia saat ini, sedang umumnya para diplomat Indonesia dididik bahwa diplomasi Indonesia dimulai tahun 1945, ketika wakil presiden Muhammad Hatta menyampaikan pidato yang berjudul :  “ mendayung di antara dua karang “ yang menjadi dasar politik luar negeri bebas aktif sampai sekarang ini. Jadi bagi pendukung aliran ini, diplomasi yang dilakukan oleh kerajaan Aceh, Banten, Majapahit, Singasari, Sriwijaya dan sebagainya itu bagi sebagian kita diaggap tidak ada relevansinya dengan kebijaksanaan diplomasi nasional sekarang ini. Maka, sangat dimaklumi jika dalam pendidikan untuk menggodog diplomat muda Indonesia di Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (Sekdilu), sejarah pengusiran dubes Meng Khi kurang mendapat kajian yang cukup serius. Yang menarik kasus ini justru diangkat sebagai disertasi oleh DR Daniel Novotny, staf ahli presiden Ceko dalam kajiannya yang berjudul: “ Torn between America and China: elite perceptions and Indonesian Foreign Policy “, yang secara gamblang menjelaskan bahwa bagaimana ancaman China dimasa lalu diyakini masih merupakan hal yang perlu mendapatkan tanggapan serius.  Salah satunya, ialah sekalipun invasi militer China seperti di zaman Singasari yang lalu sangat kecil terjadi di masa modern ini, tapi invasi dalam bentuk lain, seperti dominasi ekonomi dan budaya tetap akan terjadi. Kita sudah melihat dalam kekisruhan pelaksanaan persetujuan dagang China – AFTA beberapa waktu lalu dan banjirnya produk China berkualitas rendah di pasaran Indonesia. Jelas para negosiator dagang kita harus mempunyai semangat raja Kertanegara dalam membela kepentingan nasional. Mereka juga harus diingatkan bahwa jika bangsa – bangsa asing ingin bersahabat lewat diplomasi budaya seperti muhibah armada China yang dipimpin Laksamana Cheng Ho kita sangat mendukung dan menyambut baik. Tetapi jika ingin menjajah, maka pasukan kita tidak akan segan . segan melawannya, misalnya saja  pengiriman amrmada Angkatan Laut Kesultanan Demak yang dipimpin Adipati Unus yang membantu pasukan Kesultanan Aceh menyerbu Malaka yang dijajah Portugis pada tahun 1511 M. Sebelumnya pasukan Sri Wijaya pun pernah mengusir invasi militer kerajaan Chola Mandala yang dipimpin raja Rajendra Chola pada tahun 1025 M. Dengan demikian nenek moyang bangsa Indonesia sudah siap berdiplomasi secara budaya, politik, ekonomi dan juga militer dengan bangsa manapun di dunia.

Jadi, menurut hemat saya pelajaran sejarah diplomasi dari zaman Majapahit, Singasari, Aceh, Banten, kesultanan Demak dan berbagai kerajaan di masa suilam masih sangat relevan untuk dipelajari bagi bangsa Indonesia di masa modern sekarang ini,. Memperingati hari kemerdekaan nasional 17 AGUSTUS  tentunya memaknai sejarah panjang yang terjadi sejak zaman nenek moyang dahulu.

By Djoko Susilo with No comments

0 comments:

Post a Comment